RSS

Category Archives: Tentang Flora

Cerdas Cermat Bahasa Flora

بسم الله الرحمن الرحيم

Assalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh

“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Rabbmu dan surga yang lebarnya selebar langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al Hadiid: 21)

Bagaimana kabar teman-teman semua? Tidak bosan kan saya tanya terus? Alhamdulillah bisa kembali berusaha untuk saling menasehati dan memberi inspirasi.

Mungkin teman-teman bingung dengan judulnya (ah biasa aja itu mah). Ok kalau biasa-biasa aja dilanjut ya. Yak, lagi-lagi tulisan ini saya buat karena terinspirasi dari pekerjaan yang saya lakukan ketika KP (Kerja Praktek) di Kota Hujan (Bogor). Baiklah saya jujur, pekerjaan saya tidak lain dan tidak bukan adalah menanam benih kedelai. Itu suatu hal yang cukup menguras keringat dan waktu senggang (jadi ada kegiatan). Wah jadi curhat..

Kita lanjut saja ya…

Kegiatan sehari-hari setelah semua benih ditanam adalah menyiram dan pengamatan. Mulai menanam hari selasa tanggal 5 Juni 2012. Hingga pada suatu hari, saya melihat suatu hal yang menarik, apakah itu? Becak? Bukan!. Saya mendapati beberapa polybag berisikan kedelai yang telah tumbuh. Tapi…   Tidak cuma itu ternyata. Ada tanaman-tanaman lain yang berukuran lebih kecil yang juga tumbuh. Tanaman ini boleh disebut gulma, asal jangan disebut manusia. Saya sangat yakin hanya menanam benih kedelai, tidak dengan yang lain. Lalu bagaimana bisa terjadi? Fenomena apa yang terjadi??? Penasaran??

Kali ini saya tidak membahas bagaimana bisa terjadi, tetapi saya akan coba berbagi fenomena tersebut. Di dalam istilah biologi, fenomena ini bisa disebut sebagai KOMPETISI (sudah jelas kan, kenapa judulnya begitu???). Saya yakin teman-teman sudah tidak asing lagi dengan kata KOMPETISI dan teman-teman tentu sudah merasakannya. Baik lomba ini lomba itu, pertandingan ini dan itu. Dalam hidup kita selalu ada kompetisi. Bahkan, kompetisi sudah dilakukan sebelum kita lahir (masa?). Percaya? Ya, itulah kita. Kita adalah individu yang lahir dari sebuah kompetisi di antara berjuta-juta sel sperma yang masuk ke dalam ovum. Umumnya hanya satu yang berhasil, dan siapakah itu? KITA. Bahkan jauh sebelumnya, di mana terjadi kompetisi pemilihan pasangan. Orang tua kita tentu berkompetisi untuk mendapatkan pasangan yang terbaik. Sehingga menikah dan melahirkan KITA. Tentu saja semua atas izin Allah.

Tanpa disadari, kehidupan kita selalu diisi oleh KOMPETISI, hingga sekarang tentunya dan mungkin akan terus hingga nyawa sudah tidak berada dalam raga. Ternyata dalam Islam pun juga sangat menganjurkan kita untuk berkompetisi/berlomba-lomba. Terdapat beberapa firman Allah yang dapat kita telaah. 

 

“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Rabbmu dan surga yang lebarnya selebar langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al Hadiid: 21)

Berlomba-lombalah dalam kebaikan(QS. Al Baqarah: 148).

Tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.(QS. Al-Maidah: 48)

Dari beberapa ayat di atas menjelaskan bahwa Allah menyuruh kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dan dalam memperoleh ampunan. Kenapa? Tentu saja agar semakin banyak mendapat ridha dan keberkahan dari Allah. Kalau kita coba melihat kisah-kisah sahabat, mereka sangatlah luar biasa dalam berlomba-lomba. Ingat kan kalau Umar pernah menyedekahkan separuh hartanya untuk membiayai perang? Subhanallah. Tapi, ternyata Abu Bakar tidak mau kalah, dia bahkan menyumbangkan seluruh hartanya. Contoh lainnya adalah ada sahabat yang miskin mengadu pada rasulullah.Ternyata mereka iri pada orang muslim yang kaya. Mengapa? Karena orang kaya tersebut sama-sama beramal dan beribadah dengan porsi yang sama, hanya saja mereka bisa mensedekahkan hartanya. Ini yang membuat sahabat yang miskin tersebut iri, karena merasa kalah dalam lomba menggapai kebaikan. Subhanallah, sungguh hal yang luar biasa. Semangat yang tanpa tanding.

Lalu, apa saja yang sudah kita lombakan? Cerdas cermat? Lomba masak? Lomba beramal? Lomba makan? Olahraga? Berlomba dalam IP tertinggi? Cepat-cepatan menikah ? (eh.). Apakah semua itu dilandasi karena Allah? Apakah itu semua kita niatkan karena Allah? Apakah kita sudah berlomba-lomba dalam kebaikan dan mencari ampunan? Ataukah kita berlomba-lomba dalam hal yang tidak baik? Ya Allah, mari kita renungkan.

Bagaimanapun juga, sesuai sunnatullah, KOMPETISI akan melahirkan pemenang dan pengalah (maksudnya yang kalah). Selalu ada yang lebih baik dari yang lain. KOMPETISI adalah keniscayaan dan akan terus terjadi. Yuk kita sama-sama selalu berusaha berlomba-lomba dalam kebaikan dan dalam memperoleh ampunan Allah. Tumbuhan dan hewan saja tidak mau kalah dalam berkompetisi. Kita yang diberi akal dan pikiran tentu harus lebih baik dan semangat. Semoga kitalah yang akan pemenang dalam KOMPETISI yang paling akbar, KOMPETISI paling dahsyat, yaitu dengan hadiah syurga. Aamiin.

Demikianlah tulisan ini saya buat, semoga dapat menginspirasi dan memberikan manfaat bagi teman-teman semua.

Mohon maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan, hal ini disebabkan oleh kelemahan dan kurangnya ilmu dalam diri ini. Semoga Allah senantiasa menunjukkan jalan yang terbaik dan meneguhkan hati kita semua dalam ketaatan kepada Allah. Aamiin.

Wallahu a’lam bishshawab

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

(QS.Al Insyirah:5-6)

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Seperti inilah cerdas cermat bahasa flora

Cerdas cermat berkelompok

 

Sumber : 

 

-Tamam, Badrul. “Berlomba-lomba dalam Kebaikan”. http://www.voa-islam.com/islamia/tsaqofah/2010/06/15/7144   /berlombalomba-dalam-kebaikan/. Diakses pada tanggal 12 Juni 2012.

– Anonim 1, 2011. “Berlomba dalam Kebaikan”.  http://www.gensalaf.net/?p=741. Diakses pada tanggal 12 Juni 2012.

 
Leave a comment

Posted by on June 13, 2012 in Tentang Flora

 

Lingkungan yang Shaleh untuk Biji

بسم الله الرحمن الرحيم

Assalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh

Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketa, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun- susun, untuk menjadi rezki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan”. (QS. Qaaf : 9 – 11)

Bagaimana kabar teman-teman semua? Sehat kan? Waah, sudah lama nih saya tidak menulis lagi di sini. Rasanya sangat kangen untuk bisa menulis dan membagi cerita yang harapannya dapat bermanfaat dan menginspirasi..

Kali ini saya akan mengupas mangga (eh bukan), maksudnya membahas tentang suatu benih. Kenapa soal benih/bibit? Karena ini berhubungan dengan kegiatan KP (Kerja Praktek) yang saya lakukan. Ada pepatah, siapa yang menebar benih maka dia akan menuai hasilnya. Ungkapan ini benar, tetapi ternyata ada hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu bukan hanya siapa yang menebar benih, tetapi di mana dia menebar benih. Ya begitulah kira-kira. Silahkan kencangkan sabuk pengaman dan dudukan sandaran kursi anda (eh), pastikan cahayanya cukup untuk membaca.

Teman-teman tentu sering lihat tanaman-tanaman di sekitar kita. Setiap tanaman memiliki sumber keragaman genetik yang disebut plasma nutfah (tenang, bukan kuliah kok..). Nah tentu tahu dong kalo tanaman itu dapat bereproduksi secara seksual dan menghasilkan biji. Nah dari biji inilah yang akan berkecambah dan dapat tumbuh menjadi individu baru, tetapi….

Tetapi apa? Kenapa? Ya, itu sangat dipengaruhi oleh kondisi internal dan eksternal (lingkungan). Proses ini disebut dengan perkecambahan/germinasi yang dimulai dari proses imbibisi (masuknya air). Proses tersebut akan memberikan sinyal sehingga terjadilah serangkaian proses di dalam tubuh (subhanallah ya, kompleks sekali). Hasil akhirnya adalah tanaman tersebut berkecambah dan akan tumbuh hingga dewasa. Itu idealnya.

Akan tetapi, ada hal yang membatasi proses ini. Apakah itu? Itu adalah faktor lingkungan (eksternal) yang terdiri dari berbagai hal antara lain cahaya matahari, suhu, kelembaban, substrat (tanah, dll), dan lainnya. Tanpa ada lingkungan yang sesuai, maka biji tersebut akan sangat sulit berkecambah. Bahkan tak jarang ada yang berdiam (dorman) hingga menemukan lingkungan yang tepat. Bisa dibayangkan kan nasib si biji kalau berada di lingkungan yang tidak pas? Dzat yang kecil itu ternyata sangat bergantung dengan lingkungan. Apabila benar-benar tidak mendapat lingkungan yang baik, bisa saja biji tersebut kehilangan kemampuannya untuk berkecambah dan mati.

Lalu apa yang bisa kita ambil dari kejadian tersebut? Wah ternyata kondisi lingkungan itu berpengaruh ya terhadap baik-buruknya kehidupan tanaman. Ini juga mempengaruhi kita sebagai manusia loh ternyata. Tentu saja, karena ada dua aspek yang dapat membentuk perilaku makhluk hidup, yaitu genetik dan lingkungan. Mengenai pengaruh lingkungan, terdapat hadits Rasulullah :

Seorang laki-laki di atas agama  sahabat dekatnya, maka hendaknya seseorang di antara kalian melihat kepada siapa dia bersahabat” [1]

Apa maksud hadits di atas?

Yaitu bahwa kualitas agama seseorang, baik dan buruknya, baik dari sisi pemahaman dan pengamalan, tergantung keadaan sahabat dekatnya.  Jika sahabatnya itu shalih, maka  dia akan terkena imbas baiknya pada kehidupan dan kepribadiannya, begitu juga sebaliknya.

Nah, tentu ini sangat berkaitan dengan kondisi lingkungan kan? Karena kita akan dapat menemukan orang-orang yang shaleh untuk menjadi teman di lingkungan yang baik dan mendukung tentunya. Lingkungan yang shaleh berisi orang-orang shaleh, sedangkan lingkungan yang penuh maksiat tentu diidominasi orang-orang yang bermaksiat.

Wah jadi kita harus pilih-pilih lingkungan dan teman bergaul dong? Jelas lah. Kalau ingin kecipratan bau minyak wangi ya kita bergaul dengan penjual minyak wangi, masa bergaul dengan tukang las. Kecuali kalau tukang lasnya juga menjual minyak wangi (eh). Kita tentu harus bersyukur, karena kita sebagai manusia memiliki pilihan, berbeda dengan si kecambah. Dia hanya pasrah terhadap lingkungan yang akan membawa dirinya. Kalau baik maka baiklah dia, kalau buruk maka sulitlah dia. Oleh karena itu, kita harus memilah dan memilih, tidak cuma sampah, tapi juga lingkungan pergaulan kita. Mau kan jadi orang shaleh? Mau lah. Yuk mari kita berusaha memilih lingkungan yang dapat membuat kita jadi lebih baik sehingga kita semakin dekat kepada Allah. Apabila belum dapat, mari kita tetap berusaha dan berharap Allah menguatkan kita.

Demikianlah tulisan ini saya buat, semoga dapat menginspirasi dan memberikan manfaat bagi teman-teman semua.

Mohon maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan, hal ini disebabkan oleh kelemahan dan kurangnya ilmu dalam diri ini. Semoga Allah senantiasa menunjukkan jalan yang terbaik dan meneguhkan hati kita semua dalam ketaatan kepada Allah. Aamiin.

Wallahu a’lam bishshawab

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

(QS.Al Insyirah:5-6)

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Biji yang berkecambah

1. Hadits ini diriwayatkan oleh:

– Imam Abu Daud dalam Sunan-nya, Kitabul Adab Bab Man Yu’maru An Yujaalisa, No. 4833

– Imam At Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Az Zuhd ‘an Rasulillah Bab Maa Jaa’a fi Akhdzil Maal bihaqqihi, No. 2378

– Imam Ahmad dalam Musnad-nya No. 8417, dengan lafaz: “Al Mar-u (seseorang) ‘ala diini khalilih …dst”

– Imam Al Hakim dalam Al Mustadrak-nya No. 7320, dengan lafaz: “Al Mar’u ‘ala diini khalilih …dst”

– Imam Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 9436

– Imam Alauddin Al Muttaqi Al Hinda dalam Kanzul ‘Ummal, No. 24777

– Imam ‘Abdu bin Humaid dalam Musnad-nya No. 1431

Hadits ini dihasankan oleh Imam At Tirmidzi. (Lihat Sunan At Tirmidzi No. 2378), dishahihkan oleh Imam An Nawawi. (Lihat Riyadhush Shalihin, Hal. 139), Imam Al Hakim dan Imam Adz Dza

habi mengatakan: “Shahih, Insya Allah.” (Al Mustadrak ‘alash Shahihain No. 7320), Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: “Isnadnya jayyid (baik).” (Ta’liq Musnad Ahmad No. 8471), Syaikh Al Albani mengatakan: “hasan.” (Lihat Shahihul Jami’ No. 3545, As Silsilah Ash Shahihah No. 927, )

Sumber :

Farid, 2012. “Seseorang Tergantung Agama Kawan”

http://www.islamedia.web.id/2012/03/seseorang-tergantung-agama-kawan.html. Diakse

s pada tanggal 10 Juni 2012.

 
Leave a comment

Posted by on June 10, 2012 in Tentang Flora