RSS

BCL (Beginilah Cerita si Lebah) Season 3

15 Sep

بسم الله الرحمن الرحيم

 

Assalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh

 

Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.”(QS. An-Nahl: 68-69)

 

 

Bagaimana kabar teman-teman semua? Masih semangat??? Masih ingat dengan season-season sebelumnya dari kisah BCL ? (masih ingat kepanjangan BCL? yang pasti bukan artis..). Bagi yang sudah lupa, bisa direfresh lagi dengan membaca season sebelumnya yaitu di http://www.facebook.com/notes/joko-pebrianto-trinugroho/bcl-beginilah-cerita-si-lebah-season-1/187320374652403 dan https://www.facebook.com/notes/joko-pebrianto-trinugroho/bcl-beginilah-cerita-si-lebah-season-2/493391230711981, atau mampir ke blog saya https://laatahzanjoko.wordpress.com/.

 

Alhamdulillah, sudah hampir 9 bulan jarak antara season 2 dengan season 3 ini (sudah hampir lahiran). Hal ini dikarenakan berbagai kondisi yang dialami penulis yang tidak bisa disebutkan di sini. Pada BCL Season 3 kali ini, in syaa Allah akan dibahas seputar sarang lebah dan sedikit tentang komunikasi lebah. Baiklah, silahkan tegakkan sandaran kursi, tutup jendela, dan pastikan teman-teman membaca dalam kondisi jarak dengan layar minimal 20 cm dengan pencahayaan yang cukup.

 

 

Backsound…

 

 

Cerita ini dimulai ketika pada abad ketiga, seorang yang bernama Pappus dari Alexandria yang merupakan  ahli astronom dan geometri mengusulkan penjelasan tentang sarang lebah berbentuk hexagonal. Menurut Pappus, hanya ada tiga bentuk yang bisa dipilih untuk dipakai dalam sarang lebah – segitiga, bujur sangkar, dan hexagon (segi enam). Setelah dihitung-hitung dan dicoba-coba (namanya juga orang ahli, pasti dicoba coba dulu) Pappus memperhatikan bahwa hexagon dapat mengandung lebih banyak madu dengan ruang yang sama dibandingkan persegi atau segitiga. Juga diperlukan lebih sedikit bahan lilin untuk membangun hexagon. Bentuk-bentuk lainnya ternyata akan menimbulkan ruang-ruang sisa di antara sel yang akan terbuang. Setiap sel ditutup oleh sebuah piramid yang terdiri dari tiga belah ketupat. Matematika yang kompleks menunjukkan bahwa bentuk ini juga memerlukan pemakaian lilin yang paling sedikit untuk konstruksinya. Selain itu, tutup berbentuk piramid tersebut memungkinkan sel-sel sarang lebah bertumbukan satu sama lain tanpa membuang tempat (Maasyaa Allah, ternyata lebah sangat efisien, tidak suka adanya pemborosan).

 

Ternyata bahan untuk membangun lebah ada banyak loh. Secara umum terdapat tiga sumber bahan baku untuk pembuataan sarang lebah, yaitu sumber metal, nabati, dan hewani. Dari sumber-sumber metal terdapat berbagai jenis lebah Osmia yang membangun kamar-kamar dari tanah liat yang merekatnya dengan  bahan perekat yang dibuat sendiri oleh lebah ini dari tanah kering dan air ludah. Sumber-sumber nabati antara lain dari cairan-cairan nabati alami seperti bahan-bahan damar atau lilin atau berbagai jenis sari tumbuhan. Sedangkan sumber-sumber hewani sebenarnya jarang digunakan untuk pembuatan sarang lebah, hanya pada keadaan tertentu saja sumber ini digunakan, yaitu antara lain : cairan-cairan dari kotoran binatang ternak seperti sapi/unta (pada lebah Osmia tricornis), kepala lebah (pada lebah Anthidium), dan kulit kerang kecil (pada lebah Osmia caecmentsoria).

 

Tidak hanya itu, sarang lebah memiliki berbagai jenis kamar yang dapat dibedakan berdasarkan fungsi, bentuk, bahan pembuatan, rongga sel, arah, dan urutan pembuatan. Sungguh sangat kompleks jika kita telusuri lebih dalam. Lebah membuat sarang pun ada persiapannya (diawali dari niat, lalu keshangghupan dan seterusnya),  baik itu cara menempatkan hasil galian, menentukan lubang masuk, dan juga menentukan terowongan-terowongan untuk lewat. Bahkan penutupan sarang pun tidak luput dari perhitungan lebah (padaha lebah tidak belajar kalkulus ya..). Maa syaa Allah, sungguh ciptaan Allah yang luar biasa dan banyak mengandung pelajaran di dalamnya.

 

Lebah membangun sarangnya dengan bergotong royong, tidak ada dari mereka yang bekerja sendiri-sendiri, egois, individualis. Mereka membangun dari titik-titik yang berbeda. Ratusan lebah menyusun rumahnya dari tiga sampai empat titik awal yang berlainan lalu dilanjutkan penyusunan bangunan tersebut sampai bertemu di tengah-tengah. Tidak ada kekeliruan sedikitpun pada tempat dimana mereka bertemu. Lebah juga menghitung besar sudut antara rongga satu dengan yang lain saat membangun pundi-pundinya. Antara rongga satu dengan rongga yang lain dibelakangnya selalu dibentuk dengan kemiringan tiga belas derajat dari bidang datar. Dengan demikian kedua sisi rongga tersebut berada pada posisi miring ke atas, hal ini agar madu yang terdapat didalamnya tidak mengalir keluar atau tumpah.

 

Hal menarik lainnya yang bisa kita pelajari dari lebah adalah cara komunikasi antar lebah yang luar biasa menakjubkan. Setelah menemukan sumber makanan, lebah pemadu yang bertugas mencari bunga untuk pembuatan madu terbang lurus ke sarangnya. Ia memberitahukan kepada lebah-lebah yang lain arah sudut dan jarak sumber makanan dari sarang dengan sebuah tarian khusus. Setelah memperhatikan dengan seksama isyarat gerak dalam tarian tersebut, akhirnya lebah-lebah yang lainnya mengetahui posisi sumber makanan tersebut dan mampu menemukannya tanpa kesulitan.

 

Maasyaa Allah, sungguh luar biasa pelajaran yang dapat kita ambil dari seekor lebah. Banyak sekali hikmah yang dapat kita ambil dari lebah (makanya bisa sampe 3 season nih kisahnya). Bagaimana mereka membangun sarang, bagaimana mereka berkomunikasi. Padahal mereka tidak sekolah, tidak kuliah (belum pernah dengar ada kasta professor atau guru dalam dunia lebah kan?), tetapi mereka bisa melakukan hal tersebut. Ya, mereka melakukan semua itu sesuai dengan apa yang Allah perintahkan kepada mereka. Hikmah dan pelajaran tersebut seharusnya bisa membuat kita semakin yakin akan kebesaran Allah, karena tentulah kemampuan lebah tersebut bukanlah kebetulan, asal asalan atau untung-untungan, tetapi semua itu merupakan kekuasaan Allah. Maka, sudah seharusnya kita senantiasa mengingat Allah.

 

 

Demikianlah tulisan ini saya buat, semoga dapat menginspirasi dan memberikan manfaat bagi teman-teman semua.

Mohon maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan, hal ini disebabkan oleh kelemahan dan kurangnya ilmu dalam diri ini. Semoga Allah senantiasa menunjukkan jalan yang terbaik dan meneguhkan hati kita semua dalam ketaatan kepada Allah. Aamiin.

 

Wallahu a’lam bishshawab

 

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

(QS.Al Insyirah:5-6)

 

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

 

 sarang-lebah-madu

Sumber

 

– Abd Al-Mun’im AI-Hefni. 2012. SARANG LEBAH DAN KEAJAIBAN AL-QUR’AN.  Maktabah Abu Salma al-Atsari.

– Hapsari, Endah. 2002. Sarang Lebah. http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/tasawuf/12/06/02/m4yshc-subhanallah-sarang-lebah-jadi-bukti-kebesaran-allah. Diakses pada tanggal 9 September 2013.

– Yahya, Harun. 2007. Keajaiban Lebah Madu. http://id.harunyahya.com/id/Makaleler/4509/KEAJAIBAN_LEBAH_MADU. Diakses pada tanggal 9 September 2013.

 
Leave a comment

Posted by on September 15, 2013 in Tentang Fauna

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: