RSS

Rasa itu Masih Tersimpan di Dalam Lidah

12 Jan

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Kamis, 10 Januari 2013 adalah hari yang biasa-biasa saja bagi sebagian orang, atau mungkin sangat membosankan, atau mungkin sangat menyenangkan.. Tetapi tidak demikian bagi mereka. Ya mereka. Para PKL (Pedagang Kaki Lima, bukan Perserikatan Kuda Lima (asal)) yang sudah lama beraktifitas di wilayah belakang ITB. Mungkin hari itu merupakan hari yang paling menyedihkan, menyengsarakan bagi mereka. Mengapa bisa demikian?

Siang itu, sekitar pukul 10, datanglah para petugas penertiban. Mereka menertibkan para PKL di wilayah belakang ITB. Sejatinya sudah sedari dulu wilayah belakang ITB ditertibkan, karena memang wilayah tersebut tidak diperuntukkan untuk para PKL. Setelah sekian lama barulah wacana tersebut direalisasikan. Sedih memang, karena banyak dari mereka yang sudah berjualan sangaaat lamaaa, mungkin jauh sebelum saya masuk SMA. Memang mereka yang salah secara hukum, tetapi mau bagaimana lagi karena mereka butuh mencari nafkah, mungkin inilah alasan mereka tetap berjualan. Memang terkadang kebenaran itu tidak selamanya langsung bisa diterima, langsung bisa membahagiakan… Mereka tentu punya segudang alasan, tetapi nyatanya pilihan ini harus dilaksanakan oleh pemerintah berwenang.

Wilayah belakang memiliki banyak tempat dalam memenuhi kebutuhan mahasiswa ITB. Kebutuhan makan, ada banyak warung makan, mulai dari padang, sunda, warteg, soto, sampai ayam ayaman (maksudnya aneka ayam, bukan ayam mainan). Kebutuhan akademik, terdapat tempat print, fotokopi, penjilidan. Dan kebutuhan lainnya, terdapat warung, bengkel. Ingatan saya langsung tertuju pada warung soto ayam kesukaan saya. Ya, warung yang menjual nasi pecel, nasi uduk, dan soto ayam itu merupakan tempat soto favorit saya di ITB. Karena sebagai orang Jawa, cita rasanya sesuai dan pas. Sehingga saya seringkali makan soto di tempat tersebut. Tetapi apa daya, tempat itu sudah tidak ada lagi sekarang, Soto itu sudah tidak ada lagi sekarang. Yang ada hanyalah memori tentang warung tersebut, dan “rasa” soto tersebut yang masih tersimpan oleh lidah saya.

Sore ketika saya pulang dari kampus, saya melihat puing puing sisa penggusuran yang masih ada. Saya cukup sedih membayangkan proses yang terjadi sebelumnya. Dan ketika saya berjalan, saya melihat ibu penjual soto tersebut. Beliau berwajah sedih. Melihatnya tentu membuat saya sedih. Memang kejadian ini berat bagi mereka. Mungkin berat juga bagi para mahasiswa yang kebutuhannya sering dipenuhi oleh PKL belakang. Akan tetapi, langkah ini tidak bisa dibilang salah. Walaupun kita tidak tahu apakah ini yang terbaik untuk kita semua. Kejaadian ini bisa menyadarkan kita dan membuat kita terus berpikir. Apakah ketika kita menjadi salah satu stakeholder bisa memberikan solusi yang lebih baik atau tidak. Apakah kita justru semakin tidak peduli?

Ya, walaupun soto itu mungkin tidak akan berjualan lagi di ITB, tetapi rasa itu masih tersimpan di dalam lidah…

Wallahu a’lam bishshawab

Sedikit dokumentasi yang pernah saya ambil dari TKP.

WP_000468

WP_000469

WP_000470

WP_000471

 
Leave a comment

Posted by on January 12, 2013 in Celotehan - Inner Journey

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: