RSS

Pusaka Peninggalan Wali Songo

09 Jan

Bismillaahirraahmaanirrahiim

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (QS. Ali Imron : 110).

 

Alhamdulillah, atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan dan semangat untuk berbuat baik, notes perdana saya di Tahun Masehi 2012 bisa teman-teman baca dan saksikan di layar masing-masing (hp, komputer, laptop, atau mungkin monitor tv bagi yang layar komputernya pakai TV keren). Baiklah..

Berhubung masih suasana tahun baru 2012 versi Masehi/Syamsiyah (kalau versi Hijriah mah sudah tahun baru kan), jadi rasa-rasanya saya tidak keliru memilih untuk menceritakan apa yang saya alami dan lakukan menjelang pergantian tahun versi Masehi tersebut. Adapun cerita ini murni fakta dan kejadian yang sebenar-benarnya, apabila ada kesamaan nama tempat atau tokoh ataupun waktu, hal itu memang benar adanya atas izin Allah. Jadi teman-teman tidak perlu menduga-duga, mengira-ngira, ataupun menerawang perihal kebenaran cerita saya.

Yak, tanpa perlu berpanjang-panjang dan berlama-lama lagi (saya seperti sudah merasa ada yang bilang “ayo buruan” atau “intronya panjang pisan”) silahkan dibaca dan disimak tulisan saya ini. Beginilah ceritanya ….

 

Backsound….

 

Momen tahun baru Masehi merupakan momen yang sudah sangat umum untuk dirayakan atau disambut oleh orang umum secara umum (kok agak aneh). Banyak sekali yang merayakan dan menyambut tahun baru tersebut dengan membeli kembang api dan petasan. Tentu saja tidak cuma dibeli,, tapi dinyalakan (masa cuma dibeli terus dipajang). Berbagai macam penjual petasan nampak siap siaga berjualan. Penjual terompet pun demikian. Karena entah kenapa, tahun baru cukup identik dengan terompet. Silahkan percaya atau tidak (yang jelas menyembah hanya pada Allah lah ya), tapi banyak anak-anak yang membeli petasan, terompet, ataupun keduanya.

 

Berbeda dengan remaja-remaja pada umumnya (berarti saya nggak umum dong, jelas, karena setiap orang diciptakan memiliki keunikan sendiri, bahkan susunan genomnya), tahun baru 2012 ini saya memanfaatkan waktu saya bersama keluarga (kakak, saudara, pakde) dengan menonton Pagelaran Wayang. Kenapa? Karena saya diajak saudara saya dan tiketnya pun dibayarin, jadi ya mau aja (maklum mahasiswa). Sebenarnya, ini pertama kalinya dalam hidup saya memanfaatkan waktu menjelang pergantian tahun dengan menonton Pagelaran Wayang Orang. Nah, tempatnya di Jakarta, dekat Pasar Senen (kwitang), Salemba masih maju lagi (silahkan dicari di google). Nama Teaternya adalah “Bharatayuda”, namanya yang mungkin tidak asing lagi (atau sangat asing?).

 

Pagelaran Wayang Bharatayuda merupakan pagelaran wayang orang.Jadi jelas diperankan oleh manusia asli. Nah, lakon pada hari itu (spesial tahun baru) adalah “Babad Wanamarta”. Lakon itu bisa dianalogikan dengan Judul pada suatu episode wayang. Tapi, tidak seperti sinetron-sinetron yang ada acara bersambung. Kalau wayang saya analogikan dengan FTV yang ada di SCTV itu (wah ketahuan), jadi satu lakon satu cerita sampai habis. Alhamdulillah ini yang ketiga kali saya menonton di sana.  Biasanya pertunjukkannya dari jam 20-23 dan diadakan setiap malam Minggu. Berhubung kemarin spesial tahun baru, jadinya selesai sampai jam 2 pagi (bisa dibayangkan lamanya dan capeknya para pemain? juga penonton..)

 

Singkat cerita, lakon “Babad Wanamarta” mengisahkan tentang perjuangan Pandawa lima yang terdiri dari Puntadewa (baca : Puntodewo)/Yudhistira, Bhimasena/Werkudara (baca: Werkudoro), Arjuna/Permadi/Janaka (baca : Janoko), Nakula, dan Sadewa. Kebanyakan tokoh wayang punya lebih dari satu nama. Bukan karena mereka buronan atau suka pindah-pindah tempat jadi  punya banyak KTP, tapi begitulah adanya, panjang ceritanya. Nah, Pandawa Lima (lima orang tokoh protagonis/golongan putih) ingin medirikan kerajaan. Akan tetapi, mereka harus menebang/babad terlebih dahulu hutan Wanamarta. Sehingga judulnya Babab Wanamarta, bukan soto babad. Ternyata, hutan Wanamarta terkenal angker dan banyak jin penunggunya. Tetapi, karena Pandawa lima tersebut sudah bertekad dan memiliki keteguhan hati, dibabadlah hutan tersebut dengan penuh keyakinan. Bahkan Arjuna berhalwat dan melakukan pertapaan agar memiliki kesiapan yang cukup dalam misi yang berat ini. Dalam prosesnya bahkan sampai bertarung melawan jin, yang akhirnya bisa mengalahkan jin tersebut. Bahkan jin tersebut “jogress”/bergabung ke dalam tubuh masing-masing pandawa lima untuk meningkatkan kesaktiannya. Setelah berhasil membabad hutan, maka didirikanlah kerajaan yang diberi nama “Amartha”. Setelah bermusyawarah, diputuskan bahwa Puntadewa lah yang menjadi pemimpin di Kerajaan Amartha.

 

Untuk mendapatkan pengakuan dan legalitas, disertai ucapan syukur terhadap berdirinya negara baru ini, dilakukan lah upacara sesaji yang mengundang 100 raja dari 100 negara/kerajaan. Upacara ini dikenal dengan “Rajasuyo”.

 

Begitulah secara singkat lakon “Babad Wanamarta” yang saya lihat tidak secara full (karena ada bagian yang terlewat karena tidur). Lalu apakah ada nilai/manfaat yang dapat diambil dari kisah tersebut? Apakah lakon tersebut hanyalah kisah-kisah biasa yang tidak dapat diambil ibrah dan pelajarannya? Atau sebenarnya menyimpan banyak nilai yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari? Ataukah menyimpan misteri hal-hal yang berbau mistis? Penasaran? Mari kita tanya Galileo… Bukan, maksudnya silahkan tunggu bagian selanjutnya.

 

 

 

Selanjutnya….. (backsound)

 

 

 

Pelajaran dan nilai dari lakon “Babad Wanamarta”

 

1. Bersatu padu dan tidak saling bermusuhan

Pada lakon tersebut, dapat terlihat jelas kalau Pandawa lima bersatu dan bekerja sama untuk membabad hutan dan mendirikan kerajaan. Mereka melakukan itu bersama-sama dan tidak ada perasaan iri atau permusuhan. Bayangkan kalau mereka hanya bekerja sendiri-sendiri dan tidak akur satu sama lain, boleh jadi kerajaan Amatha selamanya tidak akan ada dalam sejarah lakon wayang. Sikap tersebut dalam Islam dijelaskan dalam firman Allah :

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk “(QS. Ali Imran : 103).

 

2. Saling tolong menolong

Sikap tolong menolong terlihat jelas dalam lakon tersebut. Ketika Bima terperangkap oleh para jin hutan Wanamarta, saudara-saudara Pandawanya tidak ragu untuk menolongnya sehingga bisa menaklukan para jin. Islam jelas mengajarkan kita untuk saling tolong menolong. Allah berfirman :

….Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya” (QS. Al Maidah : 2).

 

3. Bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu

Para Pandawa membabad hutan dengan kesungguhan hati, karena mereka tahu alasan dan tujuan mereka membabad hutan. Sekiranya mereka setengah-setengah, santai-santai, tidak serius, mungkin saja hutan Wanamarta tidak pernah berhasil dibabat dalam sejarah pewayangan. Tentu, Islam mengajarkan kita untuk bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu. Mengapa? Karena pasti ada manfaatnya dari kesungguhan kita. Kita dapat mengambil hikmah dari firman Allah :

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain” (QS. Al Insyirah : 7).

“Dan mereka yang bersungguh-sungguh berjuang di jalan-jalan Kami pasti Kami tunjukkan jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah pasti bersama dengan orang-orang baik. “(Al Ankabut: 69)

 

4. Musyawarah

Sebelum Arjuna/Kresna menunaikan tugasnya yaitu membabad hutan Wanamarta, dia berembug/musyawarah dengan kekasihnya Endang Jim Mambang agar ikhlas menunggu kepergiannya guna menunaikan tugas. Selain itu, musyawarah juga dilakukan dalam penunjukkan Puntadewa/Yudhistira sebagai raja/pemimpin Kerajaan Amartha. Musyawarah merupakan salah satu budaya Indonesia. Apakah Islam mengajarkan kita bermusyawarah? Jelas sekali. Mari kita ayat-ayat di Al-Qur’an :

……..Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan (tertentu). Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (QS. Ali Imran : 159)”

“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka “(Asy-Syuura : 38).

 

5. Mensyukuri nikmat dan memanfaatkan potensi yang dimiliki

Para tokoh Pandawa lima adalah orang-orang yang mensyukuri nikmat yang diberikan dan memanfaatkan potensi mereka. Mereka memiliki fisik dan tubuh yang kuat. Mereka juga memiliki ajian/pusaka yang mereka gunakan untuk kebaikan, tidak digunakan secara sembarangan. Seandainya mereka tidak memanfaatkan potensi dan nikmat yang mereka miliki, mungkin saja tokoh Pandawa Lima menjadi tokoh yang biasa-biasa saja tanpa ada keistimewaan dan tidak dikenal oleh para penikmat wayang. Sebagai makhluk ciptaan Allah, sudah seharusnya kita bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan kepada kita. Banyak sekali keutamaan dan manfaat bersyukur. Salah satunya ada pada firman Allah berikut :

“Sesungguhnya jika (kamu) bersyukur pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmat-KU) maka sesungguhnya azab-KU akan sangat pedih” (QS.Ibrahim : 7).

 

 

Nilai dari kesenian wayang

 

Wayang merupakan salah satu warisan dari generasi ulama shaleh Indonesia yang kita kenal kital dengan wali songo (Sembilan wali). Wayang merupakan salah satu kesenian yang menjadi salah satu metode syi’ar dan dakwah Islam pada saat itu. Dalam sejarahnya, tidak hanya Sunan Kalijaga yang terlibat dengan wayang, tetapi juga Sunan Kudus. Kenyataannya adalah, wayang merupakan salah satu metode syi’ar dan dakwah Islam. Hal ini jelas berbeda apabila dibandingkan dengan zaman rasulullah. Lantas mengapa para wali tersebut menggunakan metode (ini hanya salah satu metode dakwah para wali) ini? Tentu saja mereka punya alasan. Ketika kita bicara syi’ar Islam, tentu tidak akan lepas dari objeknya. Keberhasilan dan keberterimaan syi’ar salah satunya ditentukan oleh objek tersebut. Mungkin saja pada saat itu, wayang jadi salah satu media yang efektif dalam syi’ar Islam. Banyak sekali metode yang dapat digunakan, misalnya ta’lim, twitter, fb dan lain-lain. Akan tetapi, metode apapun itu haruslah memperhatikan syarat dan ketentuan yang berlaku. Tidak mungkin kita mengajak orang tanpa memiliki ilmunya, tanpa dasar yang jelas, dan cara yang dilarang oleh rasulullah. Amalan yang kita lakukan haruslah karena Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah. Salah satu firman Allah terkait bagaimana berdakwah adalah sebagai berikut :

 

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.(QS. an-Nahl : 125)

 

Ketika kita mengajak orang lain, boleh jadi orang tersebut tidak tertarik dan mengikuti ajakan kita (pengalaman pribadi nih…). Hal ini kemungkinan terjadi karena ajakan kita belum masuk ke hati mereka. Boleh jadi usaha kita yang kurang, kapasitas kita yang kurang, keimanan yang kurang, ataupun cara kita yang belum tepat. Ketika konteks syi’ar kita artikan melayani, boleh jadi pelayanan yang kita berikan tidak pas/tidak sesuai kebutuhan. Karena masyarakat tertentu mempunyai kebutuhan yang berbeda. Kebutuhan anak SD jelas berbeda dengan anak SMA. Kebutuhan petani tentu berbeda dengan kebutuhan dosen. Mengenali kebutuhan objek syi’ar merupakan salah satu hal yang diperlukan ketika kita ingin bersyi’ar. Tetapi, kadar keimanan dan kapasitas diri jelas menjadi pondasi utama. Dari berbagai faktor dan parameter tersebut diharapkan keberterimaan syi’ar menjadi sangat baik. Dari hal-hal tersebut diharapkan syi’ar dapat memberi manfaat dan mendekatkan diri kita semua kepada Allah.

 

 

Demikianlah tulisan ini saya buat, semoga dapat menginspirasi dan memberikan manfaat bagi teman-teman semua.

Mohon maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan, hal ini disebabkan oleh kelemahan dan kurangnya ilmu dalam diri ini. Semoga Allah senantiasa menunjukkan jalan yang terbaik dan meneguhkan hati kita semua dalam ketaatan kepada Allah. Aamiin.

 

Wallahu a’lam bishshawab

 

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

(QS.Al Insyirah:5-6)

 

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

 

Bima sedang membabad hutan Wanamarta

 

Sumber :

 

Prabu. 2010. “Babad Wanamarta”. http://wayangprabu.com/category/referensi-wayang/cerita-wayang/banjaran-cerita-pandawa/

Republika. 2008. “Wayang Kulit Berperan Dalam Penyebaran Islam di Indonesia”. http://www.republika.co.id. Diakses pada tanggal 3 Januari 2012.

Wahyudi. 2006. Babad Wanamarta. http://tapalbatas.multiply.com/photos/album/30?&show_interstitial=1&u=%2Fphotos%2Falbum. Diakses pada tanggal 3 Januari 2012.

Wira, Tari. 2009. “Sekilas sejarah wayang di Indonesia”. http://triscbn.wordpress.com/2009/09/15/sekilas-sejarah-wayang-di-indonesia/. Diakses pada tanggal 3 Januari 2012.

 
Leave a comment

Posted by on January 9, 2012 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: